Ads Top

Jangan Paksa Membaca Majalah TERKAM


Tak kenal maka tak sayang! Begitulah pepatah tua yang kadang menggelikan. Jangan paksa terus membacanya kalau mengartikannya hanya setengah-setengah. Mungkin begitu bacaan tersebut disajikan hanya untuk orang-orang yang membutuhkan. Sama halnya dengan Majalah TERKAM, sebagian besar hanya diperuntukan bagi mereka, yaitu para remaja atau kaum muda yang dapat bersanding satu sama lain. Bravo!

Di akhir tahun 2013 yang lalu, ialah awal pergerakan kami membentuk kesadaran akan perlunya memediasi pergerakan budaya populer oleh khalayak muda dalam ranah komunitas yang terdapat di Kota Palu. Kemudian pesatnya pergerakan yang berlangsung terus membawa perubahan secara dinamis, yang kian merambat hingga membuat kita semua rela menjerumuskan diri dalam arus deras era globalisasi.

Ruang lingkup remaja pun terus dipengaruhi oleh invasi yang kerap membuat kita tak sadarkan diri, dan komunitas terbentuk demikian menjalar di sana sini, dengan upaya mempertahankan diri atas dasar eksistensi. Lalu, siapa yang berkreasi? Sangat disayangkan, intensitas kreativitas yang terus dikembangkan belum mendapatkan tempat yang sepantasnya di mata masyarakat secara luas.

Pergerakan kaum muda terus bergejolak di dalam kandangnya, namun benturan-benturan terjadi yang kadang saling menyalahi. Selain itu, timbulnya pesimisme kian pula menjadi cambuk yang sesekali menakuti pengembangan daya kreasi remaja maupun di komunitas, khusus di Kota Palu. 
“Pergerakan kaum muda terus bergejolak di dalam kandangnya, namun benturan-benturan terjadi yang kadang saling menyalahi.”
Kemunculan Majalah TERKAM sebagai media massa amatiran pun tengah berusaha meretas ruang lingkup remaja serta komunitasnya. Dengan memfokuskan perhatian terhadap perkembangan kreativitas dan budaya populer, yang semacam tren khusus di Kota Palu. Dan atas dasar kemerdekaan ialah hak segala bangsa, maka Majalah TERKAM turut pula mengumandangkan diri sebagai media massa para kaum muda yang merdeka dan berkarya. Merdeka!

Dalam rangka menguak potensi kaum muda yang mungkin tertutupi di balik jeruji eksistensi, Majalah TERKAM menjadi selingan pergerakan partipatif melalui pembentukan ruang ekspresi serta memediasi berbagai harapan dan kenyataannya.

Adapun hal yang menjadi perhatian, seperti kepantasan berekspresi. Mungkin ada diantara kita yang sering mempertanyakan kelayakan ekspresi seseorang atau suatu kelompok tertentu. Sepertinya hal tersebut tidak harus diperdebatkan, melainkan suatu perkara yang sah-sah saja sebagai suatu proses kreativitas. Demikian halnya Majalah TERKAM, juga menyadari keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki. Sehingga pada dasarnya hal-hal yang mungkin tampak sebagai suatu kesalahan, sepatutnya dapat ditindaki bagi yang berwenang sebagai bagian dari pelajaran oleh masing-masing orang melalui sikap yang positif dan partisipatif.

Akan tetapi ada di sisi lain yang juga tak bisa dipungkiri, seperti minimnya dukungan sarana dan prasarana yang biasa menjadi alasan dan penghambat pengembangan kreativitas para kaum muda di Kota Palu. Bahkan yang paling disesalkan yaitu pihak pemerintahan daerah selaku regulator yang begitu sulit bila diharapkan. Sehingga hal-hal alternatif semacam ini, ialah pilihan bagi Majalah TERKAM untuk ikut serta mengatasi beberapa hal yang kerap dialami bersama para kawula muda kita, seperti krisis antusiasme, dan pesimistis yang menular, kini menjadi keharusan bagi Majalah TERKAM untuk meretasnya di ranah antara masyarakat lokal serta  gaya hidup kontemporernya.

Dengan ini Majalah TERKAM melakukan cara-cara agar dapat meluangkan waktu dalam berpartisipasi menyekat keprihatinan serta perkembangan diri dari para kaum muda, yang khususnya di Kota Palu. Dan demikian, Majalah TERKAM yang awalnya hanya terbentuk dari pelampiasan “kemuakan” dan “keterserahan”, meyakini adanya tenaga yang besar pada para kaum muda sebagai penentu keberlangsungan Kota palu tercinta di masa yang akan datang.
Majalah TERKAM yang awalnya hanya terbentuk dari pelampiasan “kemuakan” dan “keterserahan”, meyakini adanya tenaga yang besar pada para kaum muda sebagai penentu keberlangsungan Kota Palu tercinta di masa yang akan datang.
Apa itu TERKAM?
TERKAM, ialah singkatan dari Teras Kamar (Balkon; Beranda), yang secara estetis dimaknai sebagai suatu tempat suci layaknya persemadian. Percayakah? Tentu saja tidak! Tapi memang begitulah teras kamar yang diartikan secara garis besarnya. Okesip.

Beda halnya “Terkam” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), terkam atau menerkam berarti menerpa untuk mencekam (menangkap); singa yang galak itu siap untuk “menerkam” mangsanya. Selain itu, ada juga artian lain, terkam sebagai kata kerja, yang berarti suatu tindakan penguasaan diri yang disebabkan oleh hasrat atau kemauan menguasai berbagai hal di sekitarnya.

Memang ada banyak pengertian memaknai kata Terkam yang mungkin dominan teramat negatif oleh sebagian orang primitif. Wajar saja. Namun disini kita kembalikan pengertian bahwa Terkam yang ini memiliki esensinya tersendiri, diartikan dari sebuah singkatan, yaitu “Teras Kamar” sebagai suatu tempat bersahaja dalam hal pengendalian diri atas angan dan kenyataan.

Pada kenyataannya, TERKAM menyadari banyak hal yang teramat keruh di setiap tempat dan waktunya. Keruh dalam hal penafsiran baik dan buruk di setiap perubahan, khususnya yang banyak terjadi di kalangan kaum muda, yaitu remaja serta komunitasnya.

TERKAM berakar pada pergerakan remaja, para kaum muda dan perubahannya yang menginginkan kebebasan secara utuh melalui beragam hal kreativitas tanpa batas. Dengan melihat beragam lingkungan remaja, muncullah ketertarikan terhadap pergerakan kaum muda yang begitu unik dalam ranah kreativitas dari sebuah budaya populer dan kontemporer. Sehingga pada suatu kesempatan, TERKAM terbentuk menjadi sebuah wadah atas nama media massa, yaitu majalah, layaknya bak sampah yang dibentuk pada akhir tahun 2013 lalu.


Dengan menamai diri sebagai Majalah TERKAM, berbagai hal semacam memediasi perkembangan kreativitas remaja, berupaya dilakukan sedikit demi sedikit. Layaknya “mengembara”, membuntuti domba-domba. Sebelumnya sempat berkelana beberapa bulan sejak Desember 2013 hingga pada April 2014, dengan menerbitkan 3 edisi cetak. Walaupun dalam pengerjaan terbitan majalah sebelumnya terbilang sangat-sangatlah rancu, namun hal tersebut berimbas pada timbulnya sikap ketagihan sebagai pemuasan untuk mencapai hal yang terbaik. Oleh karena itulah, saat ini Majalah TERKAM kembali dibangkitan dan melawan arus pemikiran yang lamban dari kebiasaan sebelumnya.

Saat itu Majalah TERKAM telah diterbitkan sebanyak 3 edisi dalam jangka waktu dua bulan sekali. Edisi pertama pada Desember 2013, majalah dengan isian yang “acak-acakan” itu diterbitkan dalam bentuk soft-data (Pdf.) dan dapat diakses melalui free download pada halaman blog Majalah TERKAM. Didapati oleh teman-teman dekat yang tanpa kritikan, isiannya pun belum memberikan efek atau pengaruh secara timbal balik sebagaimana yang diharapkan dari kinerja sebuah media.

Dan sebulan kemudian, seiring terus terkumpulnya beberapa bahan atau materi yang dapat dipublikasikan melalui penerbitan, edisi kedua Majalah TERKAM pun hadir dan mencoba berbenah tanpa rasa bersalah. Maka diterbitkanlah lagi edisi cetak pada Februari 2014 melalui pembiayaannya yang secara mandiri. Alhasil pengerjaan edisi cetak berlanjut pula pada April 2014 sebagai terbitan Majalah TERKAM edisi ketiga.

Tiga edisi Majalah TERKAM berlangsung penuh gelora. Dan guncangan perlahan dirasakan secara internal, mulai dari krisis ekonomi, sosial, serta mental pribadi masing-masing orang yang telah menyadari kelemahannya. Perlahan-lahan antusiasme yang dimiliki terus merosot hingga kemudian terpelesat pesat yang dipenuhi rasa penat. Maka pada Juli 2014, majalah TERKAM berstatus rehat.

Namun di sisi lain juga terdapat tantangan bagi Majalah TERKAM, saat menyadari minimnya pembaca media massa lokal, khususnya di kalangan remaja. Sehingga Majalah TERKAM pun harus menemukan cara dalam rangka menumbuhkembangkan animo antara budaya literasi dan populer di kalangan remaja serta komunitasnya. Oleh karena itu pula, ialah salah satu hal yang turut mendorong hadirnya Majalah TERKAM dan berupaya menjadi bak informasi perkembangan tren oleh kawula muda di Kota Palu.

Sementara itu, Majalah TERKAM tidaklah menjadi media yang seutuhnya sekedar bahan bacaan semata. Melainkan berharap bisa menjadi “pendamping” dari keseharian para kaum muda serta komunitasnya, dan tanpa adanya paksakan untuk menerima apa yang disajikan oleh Majalah TERKAM sebagai kebutuhan sekelompok orang saja, namun ada banyak orang lain di luar sana yang ingin mengetahui berbagai hal tentang kita, para kaum muda Kota Palu. Mari berbagi, berkarya dan bersinergi. Terima kasih.

No comments:

Jeluang 2014. Powered by Blogger.