Ads Top

Pameran Kota Arsitektur Tadulako: Filosofi Bambu dan Perjuangan


Upacara malam hari juga terasa khidmat saat dilaksanakan di tepi pantai Anjungan Talise pada 10 November 2014 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan yang dihelat sebagai rangkaian penutup acara bertajuk Pameran Kota yang sebelumnya berlangsung pada 7 – 9 November 2014. Upacara itupun berlangsung dengan selingan instalasi bambu yang didirikan sebagai filosofi perjuangan para pahlawan di zaman dulu.

Secara prinsip filosofi instalasi bambu didirikan sebagai material yang sustainable sebagaimana tema kekinian yang diangkat dengan melihat bahwa bambu muda tumbuh, produksinya yang berjumlah sangat banyak, dan reproduksinya yang begitu cepat. Dan oleh karena itulah sebagai simbolisasi bangunan instalasi 30 bambu dengan jaringan-jaringan yang membentuk rotasi terpusat, sehingga pada puncaknya dikibarkan bendera pusaka Indonesia sebagai tanda dan bagian dalam menyikapi peringatan Hari Pahlawan sekaligus perayaan pada 20 Oktober lalu ialah 3 dekade atau 30 tahun Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Tadulako.

Sementara itu, sebelumnya berbagai gelaran acara dalam rangka perayaan 3 dekade arsitektur telah diselenggarakan sejak Oktober yang kemudian memilki beragam rangkaian kegiatan hingga pada Desember mendatang. Dan salah satunya yang telah terlaksana, ialah Pameran Kota Arsitektur dengan konsep pameran mobile expo yang berlangsung di empat ruang publik, yakni pelataran gedung kantor gubernur Sulawesi Tengah, Taman Vatulemo – Kantor Walikota Palu, Taman Nasional, dan Taman Anjungan Talise. Dan keempat tempat tersebut telah diramaikan dengan karya-karya asitektur yang dipresentasekan, baik secara wujud bangunan, dokumenter, dan juga audio visual.

Rachmat Syahrullah, Dosen Arsitek Untad, yang juga ketua panitia acara mengatakan Arsitektur Tadulako menanggapi Hari Pahlawan sebagai nilai filosofi dari pahwalan itu sendiri, dengan adanya nilai-nilai kepahlawanan yang berangkat dari keinginan untuk berbuat sesuatu yang terbaik kepada negerinya, dan tanpa mengharapkan pamrih ataupun imbalan. Maka dari filosofi itulah banyak melekat dalam bidang keilmuan Arsitek, yaitu keilmuan yang secara akademis telah menjembatani ilmu eksakta dan ilmu sosial. Sehingga arsitektur Tadulako dapat menjadi sebuah jembatan dengan mengerjakan banyak hal yang kebanyakan lokusnya berada di Kota Palu.

Selain itu, beragam studi ataupun kajian kearsitekturan yang dilakukan oleh Arsitek Tadulako juga telah banyak menyumbangkan gagasan dan idenya dalam pembangunan di Kota Palu. Namun hal itu sekedar beragam usulan yang mesti menjadi pertimbangan pemerintah daerah ataupun investor dalam rangka melakasanakan pembangunannya.

Saat ini terdapat beberapa wilayah khusus yang menjadi sasaran pembangunan di Kota Palu, sehingga hal itupun menjadi perhatian bagi Arsitek Tadulako. Contoh halnya, wilayah di sepanjang pinggiran pantai Kota Palu kini banyak dijadikan praktek pembangunan atau reklamasi yang seharusnya tidak dilakukan sebagai suatu pembangunan.

Berangkat dari nilai lokalitas setempat, berbagai studi rancangan arsitektur telah banyak menghasilkan kajian pembangunan yang dipersiapkan kepada pihak pemerintah berwenang beserta investornnya. Sehingga dikatakan oleh Racmat Syahrullah bahwa peringatan hari pahlawan yang dilaksanakan menjadi suatu kesamaan filosofi bagi arsitek tadulako.


“Yang jelas kita berbuat, kita tidak peduli apakah karya kami akan terpakai ataukah tidak, kita tidak peduli apakah akan diapresiasi ataukah tidak. Tapi selama 30 tahun, sejumlah karya itulah yang kami ingin dibuktikan bahwa kami pun juga berbuat dan melakukan suatu hal yang bermanfaat, namun inilah sedikit perbuatan dari sekian banyak hal yang telah dilakukan selama 30 tahun dalam mengikuti pendidikan arsitektur yang ada di Kota Palu. Sehingga kedepannya, diharapkan dengan melewati momentum 3 dekade ini, Arsitektur Kota Palu juga bisa membawa dan memberikan hal-hal yang positif.”

Gencarnya pembangunan di Kota Palu
Kota Palu yang secara strategis, memiliki sejumlah potensi wilayah pembangunan yang sangat besar. Terbukti dari adanya pembangunan berskala nasional, yang salah satunya bahwa Kota Palu sebagai
Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Selain itu juga terdapat beberapa pembangunan industri dan infrastruktur yang mulai digencarkan. Olehnya sangat perlu kesiapan dan perencanaan yang matang sehingga pembangunan di Kota Palu bisa tertata dengan baik seiring dengan perkembangan di kota lainnya. Beberapa indikasi dari hal itu mulai terlihat, seperti adanya praktek reklamasi di hampir seluruh tepian pantai Kota Palu.

Dijelaskan oleh Rachmat, padahal ketika adanya penelitian pembangunan bahwa kawasan di Kota Palu masih memiliki lokasi pembangunan sekitar 35% yang masih bisa dikembangkan dengan proyeksi sampai 50 tahun kedepan, dan itu di luar dari wilayah pesisir pantai. Jadi, tak heran jika muncul berbagai pertanyaan yang mengatakan kenapa harus ada reklamasi di Kota Palu, padahal masih punya ruang lain yang harus dikembangkan.

Maka jangan salah bila hal itu menjadi salah satu sorotan dalam pembangunan di Kota Palu, adanya dampak lingkungan, serta aspek sosial menjadi terganggu, seperti pengurangan fungsi sosial terhadap ruang publik. Kota Palu dikatakan sebagai kota teluk patut mempertahankan kecirikhasnya, sebagaimana yang terdapat pada visi dan misi bersama masyarakat Kota Palu.

Demikian salah seorang arsitektur Kota Palu, Rachmat Saleh mengatakan spirit atau semangat perjuangan zaman dulu dapat diterjemahkan ke spirit arsitektur zaman kini. Zaman dulu menggunakan fasilitas yang apa adanya para pejuang bisa membela negaranya, namun sekarang apalagi yang menjadi alasan bagi generasi bangsa saat ini karena semua akses sudah terbuka, informasi, fasilitas dan sebagianya. Jadi tidak ada alasan pada momen ini bagi arsitektur sendiri yang menjadikan tonggak 30 tahun pendidikan arsitektur Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu agar semakin maju.

Hari Pahlawan sebagai suatu peristiwa heroik yang juga terkait dengan karya-karya arsitektur memang seharusnya dapat diapresiasi sehingga terus memberikan inspirasi dan warna pada wajah di setiap pembangunan. Mengapresiasi karya-karya arsitektur sangatlah penting, arsitektur sebagai penata, pengatur yang juga harus turut menaati asas atau atauran yang memiliki masa dinamis dengan kondisi tertentu dalam menyesuaikan desain atau perancangan pembangunannya.

Adapun hal yang paling menarik dari perhelatan peringatan Hari Pahlawan ini ialah adanya semangat kepahlawanan masyarakat menjadi modal dalam memperjuangkan diri dan bangsa sendiri. Sebagaimana pada zaman dulu bahwa penjajahan dapat langsung dilihat, namun menjadi hal yang berbeda saat ini, dimana penjajahan berada pada bangsa sendri, dan oleh karena itu perlunya untuk memahami dan menyepakati asas-asas ataupun aturan pada negeri ini.

No comments:

Jeluang 2014. Powered by Blogger.