Ads Top

Bioskop Jumat: Mempertemukan Film dan Penontonnya


Film menjadi salah satu media yang digunakan untuk mentransformasi buah pikiran atau karangan cerita bernaskah menjadi adegan-adegan yang tervisualisasi dalam bentuk gambar-hidup, sehingga hasilnya sangatlah bisa dinikmati dan disaksikan secara langsung oleh para penontonnya. 

Perkembangan dunia perfilman pun mengalami kepesatan di tiap zaman, mulai dari film yang berwarna hitam putih, animasi, hingga berupa tiga dimensi, dan lainnya. Sementara itu, minat penonton terhadap sebuah karya film terkadang hanya terdorong oleh aspek tertentu, entah itu mengenai alur ceritanya, efek gambar yang dihasilkan, atau siapakah aktor dan bagaimana peranannya.
Terdapat berbagai sajian yang menarik dalam sebuah karya film, sehingga tak sedikit karya film yang menimbulkan pertanyaan. Penasaran. Ketertarikan terhadap karya film itu pun yang coba dilampiaskan oleh salah satu komunitas film yang terdapat di Kota Palu, ialah Bioskop Jumat. Sebuah bioskop yang dalam arti lain ini, berusaha mewadahi para pecinta, penggiat, ataupun penikmat film, dengan maksud mempertemukan film dan penontonnya. Dan bukan hanya sekedar menyaksikan berbagai karya film pilihan terbaik, tetapi juga mendiskusikan film yang usai ditonton bersama, lalu kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari masing-masing persepsi para penontonnya.

Berharap tak sekedar mengapresiasi film sebagai hiburan belaka, tetapi juga sebagai refleksi bersama bagi interaksi di antara sesama mereka yang menonton film, bahkan menjadi tempat memberi stimulus dan tantangan buat beberapa yang sering terlibat untuk melahirkan karya film. Kemudian dari keisengan yang terbiasa itulah, dinamakannya sebagai “Bioskop Jumat”, pada 19 April 2012 yang awalnya bersepakat untuk punya ritus bersama di setiap jumat malam untuk menonton. Lalu seterusnya, tak lagi di hari jumat bahkan menjadikan setiap malam bisa menjadi bioskop.


Sementara itu, film-film yang biasa ditayangkan berupa film pendek, fiksi maupun dokumenter. Dan tidak hanya karya dari luar Kota Palu saja, adapula pembuat film lokal yang mengirimkan karyanya untuk diputar di Bioskop Jumat, selayaknya dijadikan sebagai wadah apresiasi untuk membangun antusiasme apresiatif dari masyarakat Kota Palu terhadap dunia perfilman, khususnya karya film lokal.

Sekilas Gerakan Perfilman di Kota Palu
Beberapa tahun silam, sejak memasuki abad millenium. Tahun 2000. Saat itu Kota Palu tampak kehilangan salah satu tempat kekhidmatan para pecinta film layar lebar. Sebuah Bioskop. Palu Studio, ialah bioskop yang sebenarnya berjejaring dengan grup 21 dalam soal distribusi film. Gedungnya memiliki tiga studio yang masing-masing berkapasitas 222 tempat duduk, namun eksistensinya hanya bertahan 9 tahun sejak beroperasi pada Agustus 1991. Palu Studio pun kini menjadi bioskop kenangan.

Dengan kondisi demikian, muncullah inisiatif-inisiatif untuk pemutaran film di ruang pertunjukan dengan bermodalkan proyektor, kain layar dan kepingan DVD yang mungkin juga bisa dipertanyakan orisinalitasnya. Menyiasati diri masing-masing dalam menikmati film, ada banyak hal yang kemudian dilakukan oleh para penggiatnya.

Seperti halnya sebuah bioskop alternatif yang bisa menjadi oase bagi kehausan tontonan dan hiburan di kota-kota yang tidak memiliki bioskop, seperti Palu. Selain aspek hiburan, biasanya pemutaran juga diakhiri dengan obrolan santai atau diskusi, sebagai bentuk apresiasi terhadap film. Dengan model ini, para pembuat film mendapatkan penghargaan, tak jarang dalam forum-forum bioskop alternatif muncul input yang berguna bagi mereka. Bahkan keberadaan bioskop alternatif juga bisa mendorong lahirnya para kritikus film, yang keberadaannya juga dibutuhkan dunia film sebagai penyeimbang.

Di Palu, model inilah yang sekarang berkembang. Bioskop Jumat, sebagai salah satu contohnya, nama itu dipakai karena kegiatan mereka pada awalnya dilakukan setiap hari Jumat. Diinisiasi secara kolektif oleh para pecinta dan pegiat skena film Palu, Bioskop Jumat bergerilya untuk memutar film, menjawab kehausan tontonan, serta menciptakan ruang-ruang diskusi terkait dunia perfilman.
*
Keaktifan Bioskop Jumat selama ini begitu memberikan nilai positif dalam menggerakkan kegiatan-kegiatan perfilman di Kota Palu. Adanya kerjasama yang menjalin hubungan dengan komunitas-komunitas film yang berada diluar Kota Palu membuat Bisokop Jumat tampak giat melaksanakan kegiatan-kegiatannya. Kegiatan yang sangat apresiatif pada pelaksanaannya, antara lain Klinik Film 2013, yang menghadirkan B.W. Purbanegara, sutradara film pendek yang karyanya telah diputar dan menang di berbagai festival film internasional. Turut pula mengambil andil bagian pada pelaksanakan Festival Film German Cinnema, yang diadakan oleh Goethe-Institut, gelaran Roadshow Anti-Corruption Film Festival 2013, XXI Short Film Festival, dan Durasi Mini Kualitas Maksi, yang bekerja sama dengan Cinema Poetica.


Di samping itu, kegiatan pemutaran film dan diskusi tetaplah menjadi rutinitas Bioskop Jumat di setiap pekannya, dengan adanya tempat yang tanpa perlu menawarkan kenyamanan tempat duduk kelas 1 ala bioskop besar, model alternatif Bioskop Jumat tetap mampu menghadirkan kehangatan. Jangan berharap ada Pop Corn, Soda beserta camilan lainnnya yang siap tersedia menemani penonton, sebagi penggantinya model seperti ini bisa tetap menyajikan sensasi menonton yang mungkin tak ditemukan di ruang-ruang bioskop komersial.

No comments:

Jeluang 2014. Powered by Blogger.