Ads Top

Pelaksanaan Roadshow Eagle Awards 2015 di Kota Palu


Tahu apa itu Eagle Awards? Menurut google translate, Eagle Awards adalah penghargaan elang, rajawali atau garuda. Hohoo.. Masih bingung? Oke, berikut ini penjelasannya (lihat di situs web: www.eagleawards-doc.com :D) Eagle Awards - Documentary Competition (EADC) pertama kali diselenggarakan pada tahun 2005, yang merupakan ajang kompetisi dokumenter bagi pemula pembuat film dokumenter dari kalangan mahasiswa.

Dalam penyelenggaraannya, EADC melakukan roadshow ke berbagai perguruan tinggi di seluruh wilayah Indonesia. Kemudian menjaring keikutsertaan peserta melalui penyeleksian proposal hingga pitching forum, serta memfasilitasi peserta yang memiliki proposal terbaik untuk mendapatkan program beasiswa berupa workshop film bersama para profesional filmmaker.
Nah! Pada tahun ini dengan tema "Merajut Indonesia", roadshow EADC juga dilaksanakan di Kota Palu, yang berlangsung pada Selasa, (19/5) di Media Centre, Universitas Tadulako. Dengan menghadirkan narasumber, Franz Magnis Suseno (tokoh nasional) dan Andi Bachtiar Yusuf (sutradara film).

Sesuai pemberitahuan dari panitia, acara akan dimulai sekitar pukul 8 pagi, tim Majalah Terkam yang juga sebagai peserta roadshow bersama para khalayak lainnya pun mulai berdatangan dan berlomba-lomba mengkonfirmasikan diri kepada panitia acara, bahwa kami juga bisa datang tepat waktu! (setidaknya sebelum acara dimulai). Sebelumnya untuk menjadi peserta roadshow ini, terlebih dahulu harus mendaftarkan diri melalui formulir yang disediakan secara online di situs web EADC. Beberapa diantaranya sudah terdaftar sebagai peserta lewat pendaftaran online, selain itu adapun peserta yang baru mendaftarkan dirinya secara langsung saat pelaksanaan acara.
Memasuki gedung Media Centre, Universitas Tadulako, terdapat dua jejeran meja yang dipadati oleh para peserta roadshow yang begitu berantusias. Dengan sesegera pengisian absen diwajibkan sebelum memasuki ruangan acara, sekotak dos berisikan kue dan air mineral pun tidak lupa diberikan kepada peserta (yang tidak jaim) sebagai bekal sarapan di pagi hari.

Para peserta dipersilahkan memasuki ruang acara. Pada pukul 8.30, lonjakan peserta yang semrawut mulai memasuki ruangan, terlihat deretan kursi yang terbentang, dengan secara spontan para awak Majalah Terkam memilih posisi kursi di bagian tengah-depan (ciye.. cari perhatian). Sembari menunggu acara dimulai, sekotak dos yang dipegang tadi mulai dibuka lebar. Alhasil ketidaktahanan pada nafsu makan, kue dan air meneral pun dilahap perlahan-lahan.

Sementara itu, pemutaran film dokumenter berjudul "mutiara pesisir pantai" yang berdurasi kurang lebih 17 menit, menjadi pengantar sekaligus pembuka acara. Selang waktu 5 menit kemudian suasana seketika riuh dengan sambutan, sorakan dan tepuk tangan dari para peserta (yang mungkin sudah melahap habis isi di kotak dosnya) ketika tim roadshow EADC mulai memasuki ruangan. Lanjut. Sambutan dari pimpinan kampus pun dipersilahkan, penyampaian diwakili oleh Wakil Rektor bidang kemahasiswaan, Prof. Dr. H. Jayani Nurdin, S.E., M.Si.

"Mari kita belajar banyak tentang bagaimana pembuatan film-film dokumenter yang kemungkinan dapat dikembangkan hingga dapat diangkat ke perfilm-an nasional. Hal-hal seperti ini bisa mendorong sineas muda untuk berkreasi dengan memanfaatkan potensi serta peralatan yang ada, namun sangat sederhana. Semoga acara ini bisa memberi motovasi pada sineas muda Kota Palu", seperti itulah seringkas sambutan dari Jayani.

Setelah itu rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan tari Baliore oleh tiga gadis cantik nan ayu, mungil-mungil bikin semringil. Tarian Baliore adalah salah satu tari daerah Sulawesi Tengah, dengan menggambarkan kelincahan gadis-gadis Sulawesi Tengah yang bergembira saat pesta panen tiba. Mereka menari-nari dengan lincahnya. Hentakan ritmis tetabuhan, terutama gendang semakin menambah dinamisnya tarian ini.


Waktu menunjukan pada jam 10,  tibalah acara pada sesi diskusi. Diskusi pertama, membahas mengenai wawasan kebangsaan, yang dibawakan oleh Franz Magnis Suseno, bersama dengan Imam Maksudi selaku tenaga profesional di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI). Diskusi berlangsung hingga siang hari, suasana acara pun terasa seperti mengikuti perkuliahan pendidikan kewarganegaraan, sedikit tegang namun asiknya dibawakan secara interaktif dan juga santai (tapi tidak seperti di pantai).

Sekitar dua jam diskusi sesi pertama berlangsung, kemudian acara pun dihentikan! Berhubung waktunya beristirahat, dan pembagian makanan tepat pada jam 12 siang (bagian ini yang paling ditunggu). Sambil meluangkan waktu mencari-cari kotak dos berisikan nasi kehidupan, sesi foto-foto pun dilakukan, ada yang nge-selfie, dan ada juga yang terselfie tanpa disadari (jangan coba lakukan di rumah).

Kembali ke acara. Tepat pada  jam 1 siang (ya, benar-benar tepat), pemutaran film dokumenter memantik para peserta untuk memasuki ruangan. Film berjudul "Provokator Damai" disuguhkan, seiring perut yang agak membuncit setelah makan siang. Film tersebut mengisahkan tentang upaya perdamaian konflik antar agama di kota Ambon (cerita selanjutnya, nontonlah sendiri). Selesai pemutaran film, diskusi sesi kedua pun dimulai dengan pembahasan mengenai film dokumenter, yang dibawakan oleh Andi Bachtiar Yusuf. Nah, di sini kesempatan peserta bertanya sebanyak mungkin mengenia teknis, sistem, ide dan lainnya mengenai perfilman, khususnya dokumenter.

Satu hal menarik ketika peserta mempertanyakan bagaimana tips agar proposal yang nantinya diajukan kepada EADC bisa diterima, baik itu oleh juri maupun penyelenggara acara yang disponsori oleh Metro TV. Kemudian jawaban pun dilontarakan Yusuf yang juga selaku juri, "kalau metro tv sih, yang penting dukung Jokowi", ujarnya. Sentak, ruangan pun menjadi hiruk-pikuk. Seru.
Namun hal terpenting yang dikatakan bahwa garapan film dokumenter yang akan dibuat, sepatutunya memiliki landasan ide dan kreatifitas dalam pengemasannya. Semua itu tergantung dari premisnya yang dibuat ringkas saja, namun pokok permasalahan harus memiliki kejelasan dan keunikan tersendiri sehingga mempunyai karakter dengan penggambaran pola pikir yang bermanfaat bagi banyak orang.

Di penghujung waktu sekitar jam 3 sore, pemutaran film berjudul "Dolanan Kehidupan" menjadi sajian penutup acara. Dolanan Kehidupan berkisah tentang perjuangan seorang nenek yang berusaha menafkahi dirinya dengan menjual mainan anak-anak jaman dahulu. Nenek tersebut sangat tua, namun ia begitu giat membuat beragam permainan, yang dikerjakannya dengan sangat bangga sembari bernostalgia akan masa kanak-kanaknya.

No comments:

Jeluang 2014. Powered by Blogger.