Ads Top

[Lanjutan] Meretas Kesenjangan Para Aktor Utama Penggerak Pengembangan Ekonomi Kreatif

Ilustrasi
Lantas, muncullah pertanyaan. Dimana pemerintah yang dikatakan sebagai salah satu aktor utama dalam tujuan pengembangan ekonomi kreatif? Apakah peran dan interaksi aktor penggerak pengembangan ekonomi kreatif berjalan sesuai dengan yang diharapkan? Jawabannya jelas tidak. Pemerintah sebagai aktor hnaya memposisikan dirinya diluar garis sirkulasi kreativitas yang sedang berlangsung, sehingga program pencapaian ekonomi kreatif yang diharapkan bersama hanya diperuntuhkan dengan untung-untungan pihak pemerintah dapat melirik hasil kreativitas dari komunitas.

Adapun karya dan usulan-usulan sederhana yang dihasilkan oleh komunitas, banyak tertimbun dalam regulasi birokratisme terhadap pengembangan ekonomi kreatif. Komunitas dianggap tidak memiliki kredibilitas dalam hal memprogramkan kreativitasnya, sehingga hal itu memunculkan pesimisme yang menyebar dan membentuk sikap apatis masyarakat komunitas terhadap pemerintah.

Di sisi lain, intelektual pun kerap lengah dalam hal daya dan upaya mendorong kreativitas, begitu pula bisnis menjadi tidak optimis dalam hal memasarkan hasil kreativitas komunitas. Contoh hal yang ditemukan, komunitas sulit memperoleh fasilitas atau sekedar bahan pokok yang dapat menunjang dalam menghasilkan karya yang berkualitas. Bisnis pun sama halnya, belum dapat membentuk citra produk lokal yang memiliki nilai jual untuk keluar ke masyarakat secara meluas. Dalam hal itulah, pemerintah daerah masih sukar menempatkan diri dalam mengambil peran sebagai regulator, fasilitator, dan konsumen.

Ilustrasi
Sementara itu, berlarutnya kesenjangan yang berlangsung belum menghasilkan tendangan intensif dari masing-masing aktor yang hanya berjalan dengan sendirinya menyusuri peruntungan-peruntungan yang ada. Adanya proyekan atas nama pembangunan, masih sering dikerjakan dengan cara kolusi tanpa melibatkan masing-masing aktor utama yang seharusnya ikut berkompeten dalam hal melancarkan sirkulasi otoritas peran dan interaksi penggerak pengembangan ekonomi kreatif. Sehingga tak heran jika investor asing-lah yang asik berlalu lalang melakukan pembangunannya secara pesat.

Pentingnya Memiliki Ruang Publik Komunitas
Jika dikatakan bahwa komunitas berperan sebagai wadah berbagi pengetahuan, pengembangan dan eksplorasi kreativitas. Maka hal itulah dapat dijadikan sebagai landasan utama dalam menjalankan otoritas kota kreatif, sehingga dalam menumbuhkembangkannnya memerlukan wadah tambahan yang dimana beragam komunitas saling terhubung dan tergabung dalam hal untuk menyuarakan serta merealisasikan masing—masing gagasannya secara bersama-sama. Dalam hal ini dibutuhkanlah ruang publik komunitas sebagai salah satu pendukung pengembangan kota kreatif.

Semakin banyaknya ruang komunitas yang dapat bersinergi dan berkesinambungan dalam mengolah gagasan, diyakini dapat memetahkan masalah yang mendasar dalam hal pengembangan ekonomi kreatif. Sebagaimana yang dikatakan oleh Henri Lefebvre, 1991, bahwa “ruang” adalah produk sosial. Sehingga berfungsi sebagai alat pemikiran dan tindakan. Ruang dibentuk oleh orang-orang yang memiliki kontrol dan karenanya terdapat kekuasaan. Selain itu, Jurgen Habermas pun menjelaskan konsep “Ruang Publik” atau Public Sphere, ialah suatu wilayah dari kehidupan sosial yang dimana hal-hal seperti opini atau gagasan dapat dibentuk oleh masyarakat untuk menangani masalah-masalah kepentingan umum tanpa dikenakan paksaan. Yang kemudian dapat pula mengungkapkan dan mempublikasikan pandangan mereka. (Habermas, 1997: 105 dalam Alan McKee, 2005: 4).

Maka dalam hal ini pentingnya memiliki ruang publik komunitas sebagai ruang kedekatan masyarakat secara umum dalam mengakses, mengolah, dan memahami berbagai macam masalah serta kreativitas dari komunitas. Dengan catatan fungsi dan pemanfaatan ruang publik komunitas telah diatur secara sistematis dalam rangka mencapai pengembangan ekonomi kreatif.
Demikian halnya aktivasi kota kreatif dapat dimulai dari menyelaraskan antusiasme dan partisipasi masyarakat setempat, dengan dukungan visi dan misi dari pemerintah daerah sebagai regulator kebajikan pelaksanaan pembangunan ekonomi kreatif secara merata di Indonesia.

* Tulisan ini diikutkansertakan dalam lomba, "Nulis Ide Kota Kreatif" yang digelar oleh IndonesiaKreatif.

No comments:

Jeluang 2014. Powered by Blogger.